Berita

Apakah Manusia Raksasa Pernah Ada di Bumi?

67
×

Apakah Manusia Raksasa Pernah Ada di Bumi?

Sebarkan artikel ini

Kepoinkuy – Manusia telah berbagi cerita tentang raksasa selama ribuan tahun, mulai dari cyclope dalam mitologi Yunani hingga Goliat dalam Alkitab. Apakah itu hanya dongeng belaka atau apakah manusia raksasa benar-benar pernah hidup di bumi ini?

Nah, jika menganggap manusia setinggi hampir 3 meter sebagai raksasa, maka Robert Wadlow adalah salah satunya. Mengutip Live Science, Senin (24/6/2024) dia merupakan orang tertinggi yang pernah tercatat. Ia tumbuh hingga 2,72 meter sebelum meninggal pada usia 22 tahun pada tahun 1940, menurut Guinness World Records.

Tinggi Wadlow jauh di atas rata-rata tinggi laki-laki Amerika Serikat saat itu, yaitu sekitar 1,75 meter dan bahkan lebih tinggi dari beberapa interpretasi deskripsi alkitab tentang Goliat. Meski begitu, tidak ada yang ajaib dari Wadlow.

Perawakanya disebabkan oleh kondisi medis. “Mayoritas pasien raksasa memiliki masalah hormon pertumbuhan, seperti halnya Robert Wadlow,” kata Márta Korbonits, seorang profesor endokrinologi di Queen Mary University of London.

Korbonits mencatat bahwa penyebab utama gigantisme adalah peningkatan kadar hormon pertumbuhan yang diproduksi oleh kelenjar pituitari di otak. Seringkali, kadar tinggi ini disebabkan oleh tumor jinak. Salah satu alasan kenapa sekarang kecil kemungkinan untuk melihat orang setinggi Wadlow lagi adalah karena dokter sekarang dapat mengangkat tumornya.

Dokter juga dapat menggunakan obat-obatan untuk menghentikan pertumbuhan, karena gigantisme dan tumor membahayakan kesehatan seseorang. Kondisi lain dapat menyebabkan orang menjadi sangat tinggi. Ini termasuk sindrom Marfan, kelainan genetik yang menyebabkan tulang tumbuh lebih panjang.

Namun, beberapa orang tumbuh mencapai ketinggian ekstrem tanpa di ketahui kondisi medisnya. Itu termasuk mantan manusia tertinggi di dunia Bao Xishun yang tingginya 2,36 meter. Dia tumbuh tinggi bukan lantaran gigantisme namun mungkin memiliki serangkaian varian genetik yang membuat mereka cenderung bertubuh tinggi.

Sudah Ada Sejak Jaman Mesir Kuno

Meskipun lebih mudah bagi para peneliti untuk mempelajari raksasa yang hidup di zaman modern, manusia yang sangat tinggi kemungkinan besar selalu ada. Kasus gigantisme tertua yang di ketahui berasal dari dugaan sisa-sisa firaun Mesir kuno, yang tingginya sekitar 1,87 meter.

Sementara penelitian Korbonits menemukan bahwa banyak ‘raksasa’ Irlandia di kehidupan nyata mewarisi mutasi gen dari manusia yang hidup 2.500 tahun yang lalu. “Sejak umat manusia ada, kita sudah mengidap penyakit-penyakit ini, jadi tidak ada alasan Anda tidak memiliki raksasa ini di Mesir Kuno atau zaman lain dalam sejarah manusia,”kata Korbonits.

Genetika berhubungan dengan faktor lingkungan seperti pola makan di awal kehidupan. Itu berguna untuk menentukan tinggi badan. Dan populasi sering kali bertambah tinggi seiring waktu dan kemajuan peradaban. Namun, tren tersebut tidak selalu linier.

Pavel Grasgruber, seorang peneliti di Universitas Masaryk di Brno, Republik Ceko, mengatakan beberapa kerangka laki-laki dari fase akhir budaya Gravettian sekitar 29.000 tahun yang lalu menonjol karena tinggi badannya yang luar biasa dan bahkan menginspirasi mitos tentang raksasa.

Kerangka tertinggi dari ketujuh kerangka tersebut yang di gali di sistem gua Grimaldi di Italia sekitar pergantian abad ke-20, di perkirakan tingginya 1,96 meter. “Pertimbangkan bahwa pada saat kerangka ini di temukan, standar tinggi badan pria di Eropa adalah di bawah 170 cm,”papar Grasgruber.

Tidak heran orang-orang ini tampak seperti ‘raksasa’ bagi para ilmuwan saat itu. Para peneliti tidak mengetahui apakah orang-orang tersebut mewakili populasi Gravettian. Namun, Grasgruber mencatat bahwa laki-laki tinggi adalah tipikal populasi awal Paleolitik Muda di Prancis dan wilayah bersejarah Moravia yang tidak di miliki oleh negara-negara industri modern hingga pertengahan abad ke-20.

“Alasan kondisi fisik yang baik dari para pemburu awal Paleolitik Muda ini adalah kepadatan populasi yang rendah dan banyaknya hewan buruan berupa mammoth dan mamalia besar lainnya,”kata Grasgruber.